Corporate Social Responsibility Program By

PT . TOTAL QUALITY INDONESIA

arca mahanandhi

Font Size

SCREEN

Profile

Layout

Menu Style

Cpanel

Profesor Arkeometalogi UGM Berbicara Tentang Arca Maha Nandi

Menjawab keingintahuan masyarakat terhadap nilai arkeologis arca Maha Nandi, Prof. Dr. Timbul Haryono, MSc. Pakar arkeometalurgi  Universitas Gajah Mada Jogjakarta, hadir dalam pameran Arca Maha Nandi,  selepas berbicara di Trowulan, dihadapan para wartawan  Profesor Arkeometalurgi tersebut menegaskan pentingnya pemahaman masyarakat akan nilai nilai arkeologi Arca Maha Nandi, tidak semua Arkeolog dapat memahami nilai nilai Arkeometalurgi Arca Maha Nandi apalagi masyarakat luas, perlu diedukasi secara khusus melalui media. Lebih lanjut dihadapan 80 direktur yang hadir dalam pameran akbar Aca Maha Nandi bertajuk “Private Exhibition of Indonesian Masterpiece” Prof. Dr. Timbul Haryono Msc menegaskan  pentingnya peran aktif pebisnis untuk mensupport  program pemerintah dalam upaya pelestarian  dan penyelamatan benda cagar budaya Indonesia, semisal Arca Maha Nandi. Didalam Makalah yang diberikan prof. Dr. Timbul Haryono MSc, menjelaskan sejarah panjang budaya Arca Maha Nandi.  Sebagai berikut :

 

Nandi ada adalah dewa yang pegang peran penting di dalam  pantheon Hindu Perwujudannya bisa sebagai zoomorfis (binatang) yang disebut vrsabha putih. Nandi adalah wahana atau kendaraan Dewa Siwa, bersama dengan Mahakala bertugas  menjaga  pintu gerbang Surga Dewa Siwa dan Dewi Parwati. Di dalam kitab purana Nandi atau Nandikeswara adalah sapi putih yang berbadan manusia dengan Ciri-ciri bertangan 4 (empat), dua tangan belakang memegang parasu (kapak) dan Murga, Mrga (kijang); sementara dua tangan yang lain dalam sikap añjalihastamudra atau   añjalimudra, yaitu sikap menyembah. Ia adalah pengikut setia Dewa Siwa.

 

Nandi lahir dari tubuh bagian sisi kanan Dewa Wisnu  dan menyerupai Dewa Siwa. Racun yang diminum Dewa Siwa keluar dari mulutnya dan jatuh ke tanah dan diminum oleh Nandi, Nandi adalah bentuk  theriomorphic Siwa. Oleh karena itu Nandi mendapat perhiasan/hiasan  seperti arca independen (mandiri). Dalam bentuk antropomorfik  adalah Nandisa, nama teman Siwa (Sivaduta). Ia sendiri melambangkan kesuburan. Sebelum aliran Siwa muncul di dalam agama Hindu telah ada penggambaran lembu jantan

 

Pada masa peradaban Dravida (3500-1500 SM) yang masyarakat agraris, mereka telah menggambarkan lembu. Di dalam kebudayaan Mesopotamia, Dewa Sin merupakan dewa yang bersifat lunar (rembulan) yang kadang-kadang diwujudkan dalam bentuk seekor lembu. Dalam peradaban kuno di Asia Barat lembu adalah simbol ‘lunar’ (simbol yang berkaitan dengan bulan) karena secara morfologis bentuk  tanduknya menyerupai dengan bentuk bulan sabit

 

Di dalam  kebudayaan ‘paleo-oriental’, lembu menjadi perlambangan kekuatan dan  tanduk lembu bermakna memiliki kekuatan yang lebih. Menurut Frobenicus, lembu hitam ada kaitannya dengan lambang dunia kematian. Maka ketika ada seorang raja meninggal, ia akan ditempatkan di dalam peti mati yang berbentuk seperti lembu (seperti dalam upacara ngaben di Bali).

 

Di lukisan Mesir kuno, ada gambar lembu hitam yang membawa mayat di atas punggungnya. Lembu merupakan lambang penghubung atau titik atau wilayah  peralihan antara unsur api dan unsur air yang melambangkan penghubung antara surga dan dunia. Lembu juga lambang maskulin, lambang ayah. Dalam perkembangannnya lembu dianggap sebagai simbol Dewi Ibu dan dilarang untuk dibunuh

 

Pada jaman Wedda sejak 1500 SM sampai 500 SM binatang lembu sudah mulai digunakan di dalam lambang kedewaan. Dewi Pratiwi sebagai penguasa bumi dilambangkan dengan lembu betina. Dewa Dyaus sebagai penguasa langit  dilambangkan sebagai lembu jantan. Dewa Rudra dalam salah satu aspeknya ialah sebagai Dewa ternak dan kekuasaan

 

Di dalam Rgweda, ia dianggap sebagai pelindung binatang dan ia diwujudkan sebagai seekor lembu. Nandi berarti cerminan sifat energi Siwa. Akhirnya lembu pun mendapat penghormatan sendiri dan diarcakan tersendiri di dalam candi seperti di Jainath (Uttarpradesh), candi Vaisnata, Khajauraho (India selatan).

 

Nandi dikenal sebagai penjaga rumah Siwa dengan nama Viraka Di dalam kitab Braddharadadharma purana, Nandi dikenal sebagai pembantu Siwa, Tantu Panggelaran, menyebutkan  Nandi dalam perwujudan sebagai lembu di dalam ceritera pemindahan Gunung Mahameru ke Pulau Jawa untuk menambah beban agar Pulau Jawa tidak goyang, Setelah para dewa berhasil memindahkan  Mahameru, Batara Guru memberi hadiah kepada  Dewa Brahma seekor Hamsa putih, Dewa Wisnu, memperoleh Garuda, dan Iswara memperoleh Vrsaba putih.

 

Jumlah arca Nandi di Indonesia cukup banyak khususnya arca batu, akan tetapi umlah arca Nandi yang dibuat dari bahan  logam amat sangat jarang terjadi, bahkan barangkali arca logam Maha Nandi ini satu-satunya, Mungkin sekali arca logam Maha Nandi ini termasuk dalam sistem pemujaan ‘kula dewata’ yaitu pemujaan di dalam komunitas kecil yang sangat langka. Unsur logam secara kualitatif adalah tembaga (Cu),  timah putih (Sn), seng (Zn)  dalam persentase yang tinggi. Selain unsur-unsur tersebut juga terdapat unsur emas (Au), nikel (Ni),  timbal (Pb), ini penemuan yg masterpiece yg luar biasa. (Sumber: Makalah Power Point Prof. Timbul Haryono, M.Sc.)